Thursday, February 11, 2016

Resensi Buku Terjemah

Rupanya ada orang yang berbaik hati meresensi buku terjemah saya. Cukup luas ulasannya. Resensi ini muncul tertanggal: Sabtu, 12 Oktober 2013.

Judul               : Pesona Maulid Diba’ Biografi – Terjemah – Penjelasan
Pensyarah        : Muhammad Nasif
Penerbit           : Mitra Pustaka (Pustaka Pelajar)
Cetakan           : I, Agustus 2013
Tebal               : 179 halaman
ISBN               : 978-602-8480-64-2
Peresensi         : Junaidi Khab*
      Masyarakat muslim di Indonesia memiliki budaya tersendiri dalam berbagai hal untuk memperingati hari-hari penting, bahkan hari kelahiran dan kecintaannya kepada nabi Muhammad Saw. diperingati dengan meriah. Salah satu upacara yang menjadi tradisi muslim Indonesia yaitu acara peringatan maulid nabi dengan membaca solawat maulid barzanjiy pada bulan Rabi’ul Awwal, khususnya pada tanggal 12 di bulan tersebut. Selain solawat maulid barzanjiy juga ada solawat maulid burdah dan diba’. Meskipun peringatan-peringatan di Indonesia berjalan di lingkungan masyarakat dengan pembacaan solawat sebagai bentuk kecintaan umat Islam, tapi masih terjadi kontroversi dengan tudingan bid’ah yang bisa menyesatkan.
      Meskipun demikian yang terjadi, tapi dengan penuh antusias budaya membaca solawat maulid tersebut sebagai bentuk kecintaan umat Islam kepada nabi Muhammad Saw. tetap berjalan. Dari tiga jenis solawat yang ada seperti solwat barzanjiy, burdah, dan terakhri solawat maulid diba’. Buku ini menampilkan pesona baru dari tiga jenis bentuk solawat yang sering disenandungkan oleh umat Islam di Indonesia sebagai bentuk kecintaannya kepada nabi Muhammad Saw. yaitu solawat diba’ yang disajikan dengan bentuk lirik bahasa Arab dengan terjemahannya.
      Tiga jenis solawat maulid tersebut tak lain merupakan bentuk puisi berbahasa Arab. Meskipun solawat diba’ cukup masyhur, sayangnya amat sulit menemukan kitab syarah (penjelasan) tentang solawat ini. Berbeda dengan solawat maulid barzanjiy maupun burdah yang mempunyai cukup banyak syarah. Namun, para pembaca bisa mendapat syarah  maulid Syafarful Anam yang merupakan cikal bakal solawat diba’, dari sebuah kitab yang memiliki dua judul salah satunya Fath al-Shamad al-Alim fi syarhi maulid ibn Qasim, dan al-Bulugh al-Fauziy libayani Alfad maulid Ibn al-Jauziy, karangan Syaikh Muhammad ibn ‘Umar al-Jawiy (Hal. xv).
      Kehadiaran buku ini patut kita acungi jempol. Karena sangat sulit sekali menemukan penjelasan solawat maulid diba’ dalam buku-buku. Dengan syarah yang digandengkan dalam tiap-tiap bait syairnya, menjamin pembaca dan pecinta solawat maulid diba’ akan mudah untuk menemukan makna dari solawat diba’ itu sendiri. Sangat jarang sekali masyarakat bisa memahami bahasa Arab, apalagi dalam bentuk untaian syair yang pemaknaannya terkadang perlu kajian yang mendalam.
Dalam bagian kelima dari bait syair diba’ kita akan menjumpai sejarah nabi Muhammad Saw. semenjak pra-dikultuskan menjadi rasul dan sebagai nabi. Bentuk syairnya pun cukup mudah dibaca. “Di punggungnya ada tanda kenabian. Mendung menaunginya. Mendung tunduk padanya”. Kiranya begitu bunyi terjemahannya.
      Dalam hal ini, syarahnya menyebutkan bahwa tanda kenabian Muhammad Saw. bisa dilihat di punggungnya. Namun par ulama menyatakan tanda ini berada di antara dua ketiak. Dan sebagian ulama menyatakan bentuknya menyerupai telur burung dara. Di bagian dalam tertulis: “Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya” dan di bagian luar tertulis: “Menghadaplah di mana kau berada, sungguh engkau sosok yang diberi pertolongan”. Pandangan ini sekiranya akan menjadi tambahan wawasan bagi para pecinta solawat maulid diba’ guna bisa belajar untuk memahami secara dalam dan luas (Hal. 20).
      Bukan hanya bait syair itu yang memiliki syarah (penjelasan). Namun bait-bait lainnya juga memiliki penjelasan yang sekiranya membingungkan dalam pemehamannya. Sekitar seratus sembilan (109) syarah yang tercatat secara beruntun dalam tiap bait yang perlu diberi penjelasan. Syarah-syarah dan terjemahan yang dicatatkan di dalamnya merupakan bentuk apresiasi dari pakar tafsir bagi umat Islam yang validitasnya cukup mumpuni dan bisa dipertanggung jawabkan. Begitu kiranya sebagian alasan buku mungil ini muncul.
      Lain dari itu, kitab maulid diba’ oleh mayoritas ulama’ diyakini sebagai karya seorang ulam besar dan merupakan ahli hadis (muhaddis), yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Umar ibn ‘Ali ibn Yusuf ibn Ahmad ibn ‘Umar ad-Diba’ie as-Syaibani al-Yamani az-Zabidiy asy-Syafi’iy. Imam ad-Diba’iy dilahirkan pada hari Kamiss tanggal 4 Muharram 866 H/1461 M di rumah orang tuanya di kota Zabid. Di akhir tahun kelahirannya, sang ayah pergi meninggalkan kota Zabid. Ad-Diba’iy belum pernah sama sekali melihat bagaimana sang ayah. Beliau meninggal dunia pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H/1537 M (Hal. ix).
      Eksistensi buku ini adalah untuk memberikan kemudahan dalam memahami diba’ melalui pemaknaan yang diterjemah ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu ikhtiar untuk memberikan penjelasan dan catatan mengenai bagaimana sejarah dari solawat maulid diba’ ini, meskipun ulasan sejarahnya sangat singkat dan pensyarah berupaya untuk memberikan penejelasan mengenai berbagai istilah yang sulit dalam prosa-prosanya. Sehingga untuk menemukan makna dari syair diba’ bisa didapat dengan mudah.
* Peresensi Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com
Sumber tulisan:  https://junaidikhab.wordpress.com/2013/10/19/muhammad-saw-yang-mempesona-dalam-diba/

Tuesday, February 2, 2016

Tentang Novel Lelaki Harimau



      Sebelum menulis, sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tulis. Tapi karena khawatir yang lahir hanya curhatan-curhatan yang mungkin tak layak orang baca, maka lebih baik yang saya tulis adalah hasil pembacaan saya tentang novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Karena ini hasil pembacaan saya, maka anggap saja tulisan ini adalah tanggapan seorang pembaca yang berlatar belakang santri salaf, belajar sastra bukan dari unsur akademis dan sudah membaca novel seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan Triologi Ronggeng Dukuh Paruk. Sayangnya saya belum baca novel-novel karya Pram yang sepertinya mempengaruhi gaya tulisan Eka.
     Ketika membaca Lelaki Harimau, saya bingung tentang apa yang sebenarnya orang sukai dari novel ini. Entah apa memang bukan selera saya untuk membaca tulisan yang model gaya penceritaanya cukup detail, sehingga seakan tidak memberi kesempatan pembaca berimajinasi tentang kepahitan-kepahitan hidup yang membuat Margio merasakan keinginan membunuh yang amat besar, sampai ia mengatakan bahwa ada harimau di dirinya. Ketika pertama membaca mungkin pembaca akan penasaran tentang alasan Margio membunuh Anwar Sadat. Tapi bagi saya tidak cukup menahan pembaca untuk menutup buku hingga akhir. Terlebih, sebagian besar isi novel itu “seperti” hanya ingin mengulas penderitaan seseorang hingga klimaksnya membuat orang terheran-heran. Penderitaan yang sampai saat ini –entah kalau lain kali saya mengubah sisi pandang saya- amat datar untuk diceritakan dan kurang menarik.
      Secara umum Lelaki Harimau menggunakan gaya bercerita secara kilas balik. Di awal sudah diceritakan Bahwa Margio membunuh Anwar Sadat dan ini merupakan inti dari isi novel tersebut. Bagian tengah menceritakan hal yang mendorong Margio membunuh. Kilas balik yang diceritakan cenderung pada masa lalu orang-orang yang ada di sekeliling Margio. Meskipun pengaruh kilas balik orang-orang sekitar itu pada Margio nampak amat lemah, Eka sepertinya berusaha memperlihatkan bahwa yang nampak itu tidak benar adanya. Justru latar belakang orang-orang di sekitar Margio itu menyumbang sedikit-sedikit hingga menumpuk dan memunculkan harimau dalam diri Margio. Suatu hal yang barangkali Eka anggap tidak disadari banyak orang.
      Lalu dengan pandangan miring ini apakah saya tidak selesai membaca Lelaki Harimau? Tidak, saya bisa menyelesaikannya meskipun dengan agak memaksa. Setidaknya, keterkenalan novel tersebutlah yang membuat saya membaca hingga akhir meskipun agak membuat kecewa sebab hal-hal menarik yang bisa saya ketemukan dalam novel-novel yang sudah saya baca, tidak saya ketemukan. Pada banyak paragraf, Eka justru membuat saya bertanya mengapa saya sepertinya anda paksa untuk tahu tentang hal itu?
      Mungkin ketika penggemar Lelaki Harimau membaca tulisan ini, ada yang mencibir saya dan mengimajinasikan saya memiliki bermacam-macam kekurangan. Tapi saya sendiri ingin belajar jujur dan membaca secara kritis. Seperti sebelumnya sudah saya ungkapkan, mungkin suatu hari saya punya sisi pandang lain yang mendorong saya untuk memuji-muji novel ini secara jujur. Sekarang, saya cukup belajar membaca dan menulis.