Tuesday, February 2, 2016

Tentang Novel Lelaki Harimau



      Sebelum menulis, sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tulis. Tapi karena khawatir yang lahir hanya curhatan-curhatan yang mungkin tak layak orang baca, maka lebih baik yang saya tulis adalah hasil pembacaan saya tentang novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Karena ini hasil pembacaan saya, maka anggap saja tulisan ini adalah tanggapan seorang pembaca yang berlatar belakang santri salaf, belajar sastra bukan dari unsur akademis dan sudah membaca novel seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan Triologi Ronggeng Dukuh Paruk. Sayangnya saya belum baca novel-novel karya Pram yang sepertinya mempengaruhi gaya tulisan Eka.
     Ketika membaca Lelaki Harimau, saya bingung tentang apa yang sebenarnya orang sukai dari novel ini. Entah apa memang bukan selera saya untuk membaca tulisan yang model gaya penceritaanya cukup detail, sehingga seakan tidak memberi kesempatan pembaca berimajinasi tentang kepahitan-kepahitan hidup yang membuat Margio merasakan keinginan membunuh yang amat besar, sampai ia mengatakan bahwa ada harimau di dirinya. Ketika pertama membaca mungkin pembaca akan penasaran tentang alasan Margio membunuh Anwar Sadat. Tapi bagi saya tidak cukup menahan pembaca untuk menutup buku hingga akhir. Terlebih, sebagian besar isi novel itu “seperti” hanya ingin mengulas penderitaan seseorang hingga klimaksnya membuat orang terheran-heran. Penderitaan yang sampai saat ini –entah kalau lain kali saya mengubah sisi pandang saya- amat datar untuk diceritakan dan kurang menarik.
      Secara umum Lelaki Harimau menggunakan gaya bercerita secara kilas balik. Di awal sudah diceritakan Bahwa Margio membunuh Anwar Sadat dan ini merupakan inti dari isi novel tersebut. Bagian tengah menceritakan hal yang mendorong Margio membunuh. Kilas balik yang diceritakan cenderung pada masa lalu orang-orang yang ada di sekeliling Margio. Meskipun pengaruh kilas balik orang-orang sekitar itu pada Margio nampak amat lemah, Eka sepertinya berusaha memperlihatkan bahwa yang nampak itu tidak benar adanya. Justru latar belakang orang-orang di sekitar Margio itu menyumbang sedikit-sedikit hingga menumpuk dan memunculkan harimau dalam diri Margio. Suatu hal yang barangkali Eka anggap tidak disadari banyak orang.
      Lalu dengan pandangan miring ini apakah saya tidak selesai membaca Lelaki Harimau? Tidak, saya bisa menyelesaikannya meskipun dengan agak memaksa. Setidaknya, keterkenalan novel tersebutlah yang membuat saya membaca hingga akhir meskipun agak membuat kecewa sebab hal-hal menarik yang bisa saya ketemukan dalam novel-novel yang sudah saya baca, tidak saya ketemukan. Pada banyak paragraf, Eka justru membuat saya bertanya mengapa saya sepertinya anda paksa untuk tahu tentang hal itu?
      Mungkin ketika penggemar Lelaki Harimau membaca tulisan ini, ada yang mencibir saya dan mengimajinasikan saya memiliki bermacam-macam kekurangan. Tapi saya sendiri ingin belajar jujur dan membaca secara kritis. Seperti sebelumnya sudah saya ungkapkan, mungkin suatu hari saya punya sisi pandang lain yang mendorong saya untuk memuji-muji novel ini secara jujur. Sekarang, saya cukup belajar membaca dan menulis.  

No comments:

Post a Comment