Sebelum menulis, sebenarnya ada banyak
hal yang ingin saya tulis. Tapi karena khawatir yang lahir hanya
curhatan-curhatan yang mungkin tak layak orang baca, maka lebih baik yang saya
tulis adalah hasil pembacaan saya tentang novel Lelaki Harimau karya Eka
Kurniawan. Karena ini hasil pembacaan saya, maka anggap saja tulisan ini adalah
tanggapan seorang pembaca yang berlatar belakang santri salaf, belajar sastra
bukan dari unsur akademis dan sudah membaca novel seperti Ayat-Ayat Cinta,
Laskar Pelangi dan Triologi Ronggeng Dukuh Paruk. Sayangnya saya belum baca
novel-novel karya Pram yang sepertinya mempengaruhi gaya tulisan Eka.
Ketika membaca Lelaki Harimau, saya
bingung tentang apa yang sebenarnya orang sukai dari novel ini. Entah apa
memang bukan selera saya untuk membaca tulisan yang model gaya penceritaanya
cukup detail, sehingga seakan tidak memberi kesempatan pembaca berimajinasi
tentang kepahitan-kepahitan hidup yang membuat Margio merasakan keinginan
membunuh yang amat besar, sampai ia mengatakan bahwa ada harimau di dirinya.
Ketika pertama membaca mungkin pembaca akan penasaran tentang alasan Margio
membunuh Anwar Sadat. Tapi bagi saya tidak cukup menahan pembaca untuk menutup
buku hingga akhir. Terlebih, sebagian besar isi novel itu “seperti” hanya ingin
mengulas penderitaan seseorang hingga klimaksnya membuat orang terheran-heran.
Penderitaan yang sampai saat ini –entah kalau lain kali saya mengubah sisi
pandang saya- amat datar untuk diceritakan dan kurang menarik.
Secara umum Lelaki Harimau menggunakan
gaya bercerita secara kilas balik. Di awal sudah diceritakan Bahwa Margio
membunuh Anwar Sadat dan ini merupakan inti dari isi novel tersebut. Bagian
tengah menceritakan hal yang mendorong Margio membunuh. Kilas balik yang
diceritakan cenderung pada masa lalu orang-orang yang ada di sekeliling Margio.
Meskipun pengaruh kilas balik orang-orang sekitar itu pada Margio nampak amat
lemah, Eka sepertinya berusaha memperlihatkan bahwa yang nampak itu tidak benar
adanya. Justru latar belakang orang-orang di sekitar Margio itu menyumbang
sedikit-sedikit hingga menumpuk dan memunculkan harimau dalam diri Margio.
Suatu hal yang barangkali Eka anggap tidak disadari banyak orang.
Lalu dengan pandangan miring ini apakah
saya tidak selesai membaca Lelaki Harimau? Tidak, saya bisa menyelesaikannya
meskipun dengan agak memaksa. Setidaknya, keterkenalan novel tersebutlah yang
membuat saya membaca hingga akhir meskipun agak membuat kecewa sebab hal-hal
menarik yang bisa saya ketemukan dalam novel-novel yang sudah saya baca, tidak
saya ketemukan. Pada banyak paragraf, Eka justru membuat saya bertanya mengapa
saya sepertinya anda paksa untuk tahu tentang hal itu?
Mungkin ketika penggemar Lelaki Harimau
membaca tulisan ini, ada yang mencibir saya dan mengimajinasikan saya memiliki
bermacam-macam kekurangan. Tapi saya sendiri ingin belajar jujur dan membaca
secara kritis. Seperti sebelumnya sudah saya ungkapkan, mungkin suatu hari saya
punya sisi pandang lain yang mendorong saya untuk memuji-muji novel ini secara
jujur. Sekarang, saya cukup belajar membaca dan menulis.
No comments:
Post a Comment