Rupanya ada orang yang berbaik hati meresensi buku terjemah saya. Cukup luas ulasannya. Resensi ini muncul tertanggal: Sabtu, 12 Oktober 2013.
Pensyarah : Muhammad Nasif
Penerbit : Mitra Pustaka (Pustaka Pelajar)
Cetakan : I, Agustus 2013
Tebal : 179 halaman
ISBN : 978-602-8480-64-2
Peresensi : Junaidi Khab*
Masyarakat muslim di Indonesia memiliki
budaya tersendiri dalam berbagai hal untuk memperingati hari-hari
penting, bahkan hari kelahiran dan kecintaannya kepada nabi Muhammad
Saw. diperingati dengan meriah. Salah satu upacara yang menjadi tradisi
muslim Indonesia yaitu acara peringatan maulid nabi dengan membaca
solawat maulid barzanjiy pada bulan Rabi’ul Awwal, khususnya pada tanggal 12 di bulan tersebut. Selain solawat maulid barzanjiy juga ada solawat maulid burdah dan diba’.
Meskipun peringatan-peringatan di Indonesia berjalan di lingkungan
masyarakat dengan pembacaan solawat sebagai bentuk kecintaan umat Islam,
tapi masih terjadi kontroversi dengan tudingan bid’ah yang bisa
menyesatkan.
Meskipun demikian yang terjadi, tapi
dengan penuh antusias budaya membaca solawat maulid tersebut sebagai
bentuk kecintaan umat Islam kepada nabi Muhammad Saw. tetap berjalan.
Dari tiga jenis solawat yang ada seperti solwat barzanjiy, burdah, dan terakhri solawat maulid diba’.
Buku ini menampilkan pesona baru dari tiga jenis bentuk solawat yang
sering disenandungkan oleh umat Islam di Indonesia sebagai bentuk
kecintaannya kepada nabi Muhammad Saw. yaitu solawat diba’ yang disajikan dengan bentuk lirik bahasa Arab dengan terjemahannya.
Tiga jenis solawat maulid tersebut tak lain merupakan bentuk puisi berbahasa Arab. Meskipun solawat diba’ cukup masyhur, sayangnya amat sulit menemukan kitab syarah (penjelasan) tentang solawat ini. Berbeda dengan solawat maulid barzanjiy maupun burdah yang mempunyai cukup banyak syarah. Namun, para pembaca bisa mendapat syarah maulid Syafarful Anam yang merupakan cikal bakal solawat diba’, dari sebuah kitab yang memiliki dua judul salah satunya Fath al-Shamad al-Alim fi syarhi maulid ibn Qasim, dan al-Bulugh al-Fauziy libayani Alfad maulid Ibn al-Jauziy, karangan Syaikh Muhammad ibn ‘Umar al-Jawiy (Hal. xv).
Kehadiaran buku ini patut kita acungi
jempol. Karena sangat sulit sekali menemukan penjelasan solawat maulid
diba’ dalam buku-buku. Dengan syarah yang digandengkan dalam tiap-tiap
bait syairnya, menjamin pembaca dan pecinta solawat maulid diba’ akan
mudah untuk menemukan makna dari solawat diba’ itu sendiri. Sangat
jarang sekali masyarakat bisa memahami bahasa Arab, apalagi dalam bentuk
untaian syair yang pemaknaannya terkadang perlu kajian yang mendalam.
Dalam bagian kelima dari bait syair diba’
kita akan menjumpai sejarah nabi Muhammad Saw. semenjak pra-dikultuskan
menjadi rasul dan sebagai nabi. Bentuk syairnya pun cukup mudah dibaca.
“Di punggungnya ada tanda kenabian. Mendung menaunginya. Mendung tunduk padanya”. Kiranya begitu bunyi terjemahannya.
Dalam hal ini, syarahnya menyebutkan
bahwa tanda kenabian Muhammad Saw. bisa dilihat di punggungnya. Namun
par ulama menyatakan tanda ini berada di antara dua ketiak. Dan sebagian
ulama menyatakan bentuknya menyerupai telur burung dara. Di bagian
dalam tertulis: “Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya” dan di bagian luar
tertulis: “Menghadaplah di mana kau berada, sungguh engkau sosok yang
diberi pertolongan”. Pandangan ini sekiranya akan menjadi tambahan
wawasan bagi para pecinta solawat maulid diba’ guna bisa belajar untuk
memahami secara dalam dan luas (Hal. 20).
Bukan hanya bait syair itu yang memiliki
syarah (penjelasan). Namun bait-bait lainnya juga memiliki penjelasan
yang sekiranya membingungkan dalam pemehamannya. Sekitar seratus
sembilan (109) syarah yang tercatat secara beruntun dalam tiap bait yang
perlu diberi penjelasan. Syarah-syarah dan terjemahan yang dicatatkan
di dalamnya merupakan bentuk apresiasi dari pakar tafsir bagi umat Islam
yang validitasnya cukup mumpuni dan bisa dipertanggung jawabkan. Begitu
kiranya sebagian alasan buku mungil ini muncul.
Lain dari itu, kitab maulid diba’
oleh mayoritas ulama’ diyakini sebagai karya seorang ulam besar dan
merupakan ahli hadis (muhaddis), yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman ibn
‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Umar ibn ‘Ali ibn Yusuf ibn Ahmad ibn ‘Umar
ad-Diba’ie as-Syaibani al-Yamani az-Zabidiy asy-Syafi’iy. Imam
ad-Diba’iy dilahirkan pada hari Kamiss tanggal 4 Muharram 866 H/1461 M
di rumah orang tuanya di kota Zabid. Di akhir tahun kelahirannya, sang
ayah pergi meninggalkan kota Zabid. Ad-Diba’iy belum pernah sama sekali
melihat bagaimana sang ayah. Beliau meninggal dunia pada pagi hari Jumat
tanggal 26 Rojab 944 H/1537 M (Hal. ix).
Eksistensi buku ini adalah untuk
memberikan kemudahan dalam memahami diba’ melalui pemaknaan yang
diterjemah ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, buku yang ada di
tangan pembaca ini adalah salah satu ikhtiar untuk memberikan penjelasan
dan catatan mengenai bagaimana sejarah dari solawat maulid diba’ ini,
meskipun ulasan sejarahnya sangat singkat dan pensyarah berupaya untuk
memberikan penejelasan mengenai berbagai istilah yang sulit dalam
prosa-prosanya. Sehingga untuk menemukan makna dari syair diba’ bisa
didapat dengan mudah.
* Peresensi Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
E-Mail : john_gapura@yahoo.com
Bisa dikunjungi di: http://www.santrinews.com/Buku/753/Muhammad-Saw-yang-Mempesona-dalam-Diba
Sumber tulisan: https://junaidikhab.wordpress.com/2013/10/19/muhammad-saw-yang-mempesona-dalam-diba/
