Saya andaikan
ada yang bertanya kepada saya mengapa saya menulis? Yang terpikir oleh saya
adalah jawaban pertanyaan itu akan berganti-ganti sesuai pikiran saya saat
ingin menulis. Itulah yang membuat saya yakin bahwa tulisan ini adalah bagian
satu dari berbagai tulisan lain yang kemungkinan banyak akan saya tulis
dikemudian hari, guna menjawab mengapa saya menulis.
Menulis bagi
saya adalah upaya untuk berdialog dengan diri sendiri. Hal ini terjadi sebab
saat saya selesai menulis, maka saya akan membaca ulang tulisan saya tersebut
dan bertanya kepada si penulis (membayangkan bahwa si penulis adalah orang
lain), apakah sudah benar logika dan fakta yang diungkap oleh tulisan tersebut.
Hal ini seperti meminta diri sendiri untuk jujur apakah yang sudah dituliskan
sudah benar sesuai dengan yang saya harapkan atau tidak. Dari sini muncul
semacam jiwa kritis terhadap logika saya sendiri. Sudahkah aku berfikir dengan
benar? Atau, ada bagian yang aku terbawa perasaan di dalamnya sehingga mengabaikan
kebenaran yang dihasilkan oleh logika yang benar.
Jadilah tulisan
menjadi teman berdiskusi. Tentu saja, layaknya seorang teman manusia, tulisan
tidak selalu bisa benar. Memang yang bisa saya lakukan adalah berusaha mencari
kebenaran, tidak menemukan kebenaran yang sampai saat ini menjadi rahasia bagi
saya. Sebab kebenaran yang saya temukan lebih sering bersifat spekulatif dan
sering berubah seiring bertambahnya pengetahuan.
Tulisan menjadi
teman dialog tidaklah hanya saat membaca ulang seusai menulis, tapi kapanpun
baik saat saya membaca kembali atau teringat pernah menulis suatu tema dan
tiba-tiba sadar bahwa ada kesalahan berfikir saat saya menulis tema tersebut.
Tulisan menjadi teman diskusi yang paling dekat dan setia menemani, sebab ia
selalu bertempat di memori dan bisa menyapa saya kapanpun dan dimanapun. Tapi,
tentunya tulisan sebagai teman diskusi juga punya sisi negatif tidak bisa jauh
dari subjektivitas diri sendiri. Tentu saja, karena saya dan penulis tulisan
saya adalah orang yang sama. Dan tanpa orang lain, subjektivitas diri sulit
dihindari.
Terlepas dari
itu, menulis, berdasar uraian di atas, lebih mirip prilaku tafakkur atau
prilaku bergerak yang lebih mengarah ke kerja otak. Dan berfikir sudah ma’lum
diketahui sebagai tanda kehidupan. Setidaknya, dengan berfikir manusia tidak
akan kehilangan eksitensi dirinya.
Mato/Yogya
No comments:
Post a Comment